Padang | AndoraNews: Banjir bandang masih menjadi. permasalahan serius di sejumlah wilayah perkotaan, termasuk di Kota Padang. Di sekitar Jalan Dr. M. Hatta, Kecamatan Pauh, banjir bandang kerap terjadi terutama saat curah hujan tinggi. Permasalahan ini tidak hanya dipicu oleh faktor alam, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, khususnya sistem drainase yang tidak berfungsi secara optimal. Banjir
Drainase yang seharusnya menjadi jalur utama aliran air hujan justru mengalami berbagai kerusakan dan hambatan, sehingga meningkatkan risiko genangan dan luapan air ke permukiman warga.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, kondisi drainase di wilayah tersebut menunjukkan banyak permasalahan Saluran air mengalami penyempitan akibat pembangunan yang tidak memperhatikan jalur aliran, pendangkalan karena endapan lumpur dan tanah, serta penumpukan sampah rumah tangga dan material organik.
Pada beberapa titik, drainase bahkan berada di bawah bangunan warga dan jembatan kecil, sehingga sulit dijangkau untuk dibersihkan. Kondisi ini menyebabkan aliran air terhambat dan tidak mampu menampung debit air saat hujan deras turun, sehingga air meluap secara tiba-tiba ke lingkungan sekitar.
Luapan air yang terjadi membawa lumpur, sampah, dan sisa material lainnya yang mengendap di rumah warga, jalan lingkungan, dan fasilitas umum. Akibatnya, aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat terganggu. Akses jalan menjadi sulit dilalui, kegiatan usaha kecil seperti warung dan kios terpaksa berhenti sementara, serta warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membersihkan rumah dan mengganti perabot yang rusak. Kerugian materi yang dialami masyarakat cukup besar dan berdampak pada kesejahteraan mereka pascabencana.
Selain dampak ekonomi, banjir bandang yang terjadi secara berulang juga menimbulkan dampak psikologis dan kesehatan. Warga hidup dalam rasa cemas, terutama saat musim hujan tiba, karena khawatir banjir akan kembali terjadi. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan, baik dari segi keselamatan maupun kesehatan.
Lingkungan yang kotor pascabanjir meningkatkan risiko penyakit seperti diare, penyakit kulit, dan gangguan pernapasan Kondisi ini menurunkan kualitas hidup. masyarakat dan menambah beban sosial di lingkungan tersebut.
Permasalahan drainase yang buruk juga memicu ketegangan sosial antar warga. Penumpukan sampah di saluran air sering kali dikaitkan dengan perilaku sebagian masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan. Hal ini menimbulkan keluhan dan perbedaan pendapat di lingkungan sekitar.
Kurangnya kesadaran bersama dalam menjaga kebersihan drainase menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi banjir bandang dan memperbesar dampak sosial yang ditimbulkan.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) turun langsung ke lapangan untuk melakukan survei, dokumentasi, dan wawancara singkat dengan masyarakat terdampak.
Mahasiswa mengamati kondisi drainase, mengidentifikasi titik-titik rawan banjir, serta mendengarkan langsung keluhan dan harapan warga. Kegiatan ini bertujuan untuk memahami permasalahan secara menyeluruh agar solusi yang dirancang dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sebagai bentuk upaya penyelesaian dalam jangka pendek, mahasiswa KKN bersama masyarakat melaksanakan kegiatan gotong royong membersihkan saluran drainase dari sampah, lumpur, dan material penghambat aliran air lainnya. Kegiatan ini bertujuan untuk memulihkan fungsi dasar drainase agar air hujan dapat mengalir dengan lebih lancar serta mengurangi potensi genangan saat hujan turun.
Selain memberikan dampak langsung terhadap kondisi lingkungan, gotong royong ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan saluran air di sekitar tempat tinggal.
Sementara itu, sebagai langkah jangka panjang, diperlukan koordinasi yang berkelanjutan antara masyarakat, mahasiswa, serta pemerintah desa dan kelurahan terkait untuk menangani permasalahan drainase secara lebih menyeluruh. Koordinasi ini mencakup pelaporan kondisi drainase yang rusak, tersumbat, atau tertutup bangunan, serta perencanaan perawatan dan penataan ulang saluran air.
Pemerintah diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap normalisasi drainase dan sungai-sungai kecil di sekitar permukiman warga yang selama ini sering luput dari pengawasan, padahal memiliki peran penting dalam mengalirkan air hujan.
Dengan adanya kerja sama antara masyarakat, mahasiswa, dan pemerintah, diharapkan permasalahan drainase di sekitar Jalan Dr. M. Hatta, Kecamatan Pauh, dapat ditangani secara berkelanjutan.
Peningkatan kesadaran kolektif, perawatan drainase secara rutin, serta dukungan kebijakan dari pemerintah menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman, bersih, dan tangguh terhadap ancaman banjir bandang di masa mendatang

