Kolaborasi Yorindo, APKOMINDO dan APTIKNAS di Surabaya: Badan Siber dan Sandi Negara Ingatkan Ancaman Serius Keamanan Siber di Era AI

Surabaya | AndoraNews : Sinergi antara sektor swasta dan pemerintah kembali diperkuat melalui roadshow teknologi yang digelar Yorindo Communication bersama APKOMINDO dan APTIKNAS pada 10–11 Februari 2026 di Hotel Grand Inna, Surabaya. Selama dua hari, forum ini menghadirkan pembahasan mendalam tentang transformasi digital berbasis kecerdasan buatan (AI), sekaligus peringatan tegas soal ancaman keamanan siber dari BSSN. Aptiknas
Foto : istimewa

Kegiatan dibagi dalam dua fokus utama: sektor kesehatan pada hari pertama dan sektor industri lintas bidang pada hari kedua.

Hari Pertama: AI dan Smart Hospital Menuju Hospital 5.0

Mengusung tema “AI Driven Hospital: Strategi Menyiapkan Ekosistem Smart Hospital Menuju Hospital 5.0”, forum 10 Februari 2026 dihadiri para direktur, manajemen, dan tim TI rumah sakit. Transformasi digital ditegaskan bukan sekadar digitalisasi rekam medis, melainkan kesiapan menyeluruh menuju layanan medis canggih seperti bedah robotik dan telesurgery.

Ketua Umum APTIKNAS dan APKOMINDO, Ir. Soegiharto Santoso, SH., yang akrab disapa Hoky, membuka sesi melalui materi berjudul “The Digital Backbone for Telesurgery.” Ia menegaskan bahwa layanan kesehatan tanpa batas hanya dapat terwujud dengan infrastruktur digital berstandar medis.

“Pada telesurgery, gangguan koneksi bukan lagi soal administrasi, tetapi menyangkut nyawa manusia. Kita tidak bisa main-main dengan latensi,” tegasnya.

Ia memaparkan pentingnya backbone fiber optik dedicated, private 5G network, serta integrasi Internet of Medical Things (IoMT) yang aman. Menurutnya, rumah sakit masa depan harus memiliki sistem terintegrasi, redundansi anti-downtime, serta keamanan siber yang dirancang sejak tahap awal.

“Teknologi kesehatan tidak cukup hanya canggih, tetapi harus medical-grade, patuh regulasi, dan berintegritas secara hukum,” tambahnya.

Peringatan paling keras datang dari Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN RI, Drs. Slamet Aji Pamungkas, M.Eng. Ia menyoroti ancaman serius terhadap perangkat medis yang terhubung jaringan.

“Risiko yang jauh lebih mengerikan adalah peretasan terhadap perangkat medis. Bayangkan jika infusion pump, alat pacu jantung, atau ventilator tidak terkendali karena diretas. Ini bukan lagi tentang kebocoran data, ini tentang potensi hilangnya nyawa,” ujarnya.

Foto: istimewa

Ia mengungkapkan, sepanjang 2024 BSSN mencatat 351,7 juta anomali trafik atau serangan siber, dengan 66,59 persen didominasi malware.

“Ini adalah sinyal bahaya yang sangat nyata,” katanya, seraya mendorong implementasi standar ISO 27001 serta kerangka keamanan khusus IoMT di fasilitas kesehatan.

Sesi ditutup Maxy Academy yang mendorong rumah sakit menyiapkan SDM “AI Talent Ready”, agar tenaga medis dan staf TI mampu memanfaatkan AI secara optimal.

Ketua PERSI Komisariat Surabaya, dr. Muhammad Ardian CL, Sp.OG., Subsp. Obginsos, M.Kes., menegaskan pentingnya penyusunan peta jalan digital terintegrasi.

“Transformasi menuju smart hospital menuntut kesiapan menyeluruh, termasuk telesurgery dan bedah robotik,” ujarnya.

Hari Kedua: AI, Industri dan Kedaulatan Digital

Pada 11 Februari 2026, fokus bergeser ke sektor industri dengan tema “AI Driven Secure & Efficient: Engineering The Digital Transformation Blueprint.” Peserta berasal dari manufaktur, perbankan, pendidikan hingga logistik.

Soegiharto kembali menegaskan bahwa adopsi AI tidak boleh berhenti pada euforia.

“AI hanya akan memberikan lompatan produktivitas jika diorkestrasi di atas infrastruktur yang efisien, aman, dan berdaulat. Tanpa itu, kita berisiko terjebak solusi ‘blackbox’ yang tidak transparan dan mengancam kedaulatan data nasional,” tegasnya.

Ia memaparkan pilihan antara Cloud AI publik dan infrastruktur AI mandiri (on-premise), khususnya untuk sektor dengan data sensitif.

“Dengan arsitektur tepat, AI bisa menjadi mesin otomatisasi nyata di lini produksi, bukan sekadar chatbot,” tambahnya.

Slamet Aji kembali mengingatkan ancaman pada sistem otomasi industri dan IoT.

“Jika hari pertama kita bicara perangkat medis, hari ini kita bicara pabrik pintar dan infrastruktur publik. Ancaman ransomware dan spionase industri itu nyata,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keamanan siber harus menjadi bagian integral sejak proses pengadaan perangkat IoT, bukan sekadar lapisan pelindung di akhir.

Workshop Praktis dan Solusi Industri

Sebagai penutup aplikatif, Praktisi AI dan IoT Agus Dedi Supriyadi Ketua DPD APTIKNAS dan APKOMINDO Bekasi  membawakan sesi tentang efisiensi energi berbasis AI dan IoT. Peserta juga mengikuti workshop membuat sistem workflow automation menggunakan platform n8n untuk mengurangi pekerjaan manual dan meningkatkan produktivitas.

Berbagai vendor turut menghadirkan solusi konkret, mulai dari infrastruktur IT terintegrasi, SIMRS berbasis AI, manajemen energi digital, hingga solusi networking dan proteksi data untuk menjamin kelangsungan bisnis.

Sekretaris DPD APTIKNAS dan APKOMINDO Jawa Timur, Ony Prabowo, memaparkan strategi Data Loss Prevention, sementara Ketua DPD Jatim, Ageng Permadi, membahas konsep Autonomous Security berbasis AI untuk deteksi dan respons ancaman secara real-time.

Mewakili penyelenggara, Yolanda Roring dari Yorindo Communication menyampaikan bahwa antusiasme peserta menjadi bukti pentingnya kolaborasi berkelanjutan.

“Semangat kebersamaan inilah yang akan membawa kita melangkah lebih maju,” pungkasnya.

Roadshow ini menegaskan satu pesan utama: di tengah percepatan transformasi digital berbasis AI, keamanan siber bukan lagi pilihan, melainkan fondasi utama demi menjaga keselamatan, keberlanjutan bisnis, dan kedaulatan digital Indonesia.

Trending

- Advertisement -
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini