Kota Probolinggo | AndoraNews: Perayaan Hari Jadi Kota Probolinggo (Harjapro) ke-667 memasuki hari ketiga, Minggu (20/9/2026). Beragam hiburan dan pertunjukan kreatif kembali memeriahkan Stadion Bayuangga. Salah satunya Eco Style Bersolek Parade yang menghadirkan peragaan busana berbahan material daur ulang.
Kegiatan yang digelar EHA Production di bawah pimpinan Elok Hanifah tersebut menjadi salah satu suguhan dalam rangkaian Harjapro ke-667. Selain menghadirkan hiburan, parade ini juga membawa pesan tentang pentingnya kepedulian masyarakat terhadap persoalan sampah dan lingkungan.
Kelompok Perkumpulan Peduli Sampah Probolinggo (Papesa) turut ambil bagian dalam parade tersebut. Para peserta menampilkan beragam busana hasil kreativitas dengan memanfaatkan material yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.
Penampilan busana daur ulang itu mendapat perhatian pengunjung yang memadati kawasan Stadion Bayuangga. Tidak sekadar menjadi tontonan, parade tersebut juga menyampaikan edukasi bahwa sampah yang dikelola dengan tepat masih dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.

Ketua Papesa Kota Probolinggo, Saifudin Zuhri, mengatakan keterlibatan komunitasnya dalam Harjapro ke-667 menjadi kesempatan untuk mengajak masyarakat mengubah kebiasaan dalam memperlakukan sampah.
Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan membuangnya ke tempat pembuangan. Masyarakat perlu mulai melakukan pemilahan sejak dari sumbernya.
“Jadi kami ingin menyampaikan bahwa kita sudah mulai harus mengubah perilaku kita terhadap sampah. Selama ini masih sering kita melihat tumpukan sampah di tanah-tanah kosong, pinggir jalan, sungai, hingga pesisir pantai. Bahkan masih ada masyarakat yang membakar sampah,” ujar Saifudin.
Ia menambahkan, kebiasaan membakar dan membuang sampah sembarangan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai pengelolaan sampah dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Melalui keikutsertaan dalam rangkaian Harjapro, Papesa berharap pesan tersebut dapat menjangkau masyarakat yang hadir di Stadion Bayuangga.
“Melalui edukasi ini kami berharap pesan tersebut bisa tersampaikan, khususnya kepada para pengunjung Hari Jadi Kota Probolinggo di stadion ini,” katanya.
Saifudin menjelaskan, sebagian besar sampah sebenarnya masih dapat dimanfaatkan apabila sejak awal dipilah berdasarkan jenisnya.
Menurutnya, sampah organik yang jumlahnya cukup besar dapat diolah menjadi berbagai produk, seperti kompos, pupuk cair, maupun dimanfaatkan untuk mendukung budidaya maggot.
Sementara itu, sampah anorganik seperti botol, gelas plastik, kertas, dan material lain yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan untuk dijual atau ditabung melalui bank sampah.
“Sampah ini sebetulnya bisa dimanfaatkan hampir semua. Syaratnya adalah dipilah dari sumbernya. Sampah organik bisa diolah secara mandiri oleh masyarakat menjadi kompos, cair, budidaya maggot dan seterusnya,” jelasnya.
Saifudin sendiri turut terlibat dalam pengelolaan bank sampah di Kota Probolinggo. Menurutnya, pengelolaan sampah yang dilakukan secara konsisten tidak hanya berdampak terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Salah satu contohnya terlihat dalam parade Eco Style Bersolek. Material yang sebelumnya menjadi sampah diolah menjadi kostum yang dapat digunakan kembali.
“Contohnya yang dipamerkan tadi ada pakaian daur ulang dan itu oleh teman-teman disewakan. Luar biasa pendapatan dari sewa kostum daur ulang itu,” ungkap Saifudin.
Ia menegaskan, kreativitas dalam mengolah sampah dapat menghasilkan berbagai produk bernilai guna. Papesa pun terus mendorong masyarakat agar tidak memandang sampah semata-mata sebagai barang yang harus dibuang.
EHA Production: Terus Berkarya untuk Kota Probolinggo
Sementara itu, Manager EHA Production, Elok Hanifah, mengatakan pihaknya akan terus menghadirkan karya dan hiburan dalam berbagai kegiatan di Kota Probolinggo.
Menurut Elok, keterlibatan EHA Production dalam rangkaian Harjapro menjadi bagian dari kontribusi untuk menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedepankan kreativitas serta pesan positif bagi masyarakat.
“Kami akan selalu dan terus berkarya untuk kebaikan pemerintah dan masyarakat Kota Probolinggo, untuk menyajikan hiburan dengan karya dan polesan tangan kami, agar Kota Probolinggo terus maju dan bersolek,” ujar Elok.
Setelah rangkaian Eco Style Bersolek Parade, kemeriahan Harjapro ke-667 di Stadion Bayuangga berlanjut dengan penampilan musik Band of Brother.
Pertunjukan musik tersebut menjadi hiburan penutup yang menemani pengunjung di penghujung rangkaian acara hari ketiga. Perpaduan kreativitas busana daur ulang, edukasi lingkungan, dan hiburan musik membuat suasana Stadion Bayuangga tetap semarak hingga akhir kegiatan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Harjapro ke-667 tidak hanya menjadi momentum perayaan hari jadi Kota Probolinggo, tetapi juga menjadi ruang bagi komunitas dan pelaku kreatif untuk menyampaikan pesan lingkungan sekaligus memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.

