Denpasar | AndoraNews: Suasana penuh haru dan semangat terasa hangat saat Herry Budijanto Dragono bersama tim Andromeda Agency Asuransi Manulife mengunjungi Yayasan Cahaya Mutiara Ubud (YCMU), Kabupaten Gianyar, Bali, Minggu (14/9/2025). DifabelĀ
Kunjungan itu bukan sekadar acara seremonial, melainkan pertemuan penuh makna. Herry dan tim datang untuk menyerap langsung semangat juang para penyandang disabilitas yang selama ini dikenal sebagai Extraordinary Difabel.
Ikatan yang Sudah Terjalin Sejak Lama
Bagi Herry, komunitas difabel bukanlah hal baru. Sejak 2010, ia sudah menjalin hubungan erat dengan mereka. Bersama almarhum Avandy, instruktur selam sekaligus sahabatnya, Herry pernah menginisiasi program menantang seperti melatih difabel menyelam, membuat pertunjukan sulap di bawah laut, hingga mengibarkan bendera Merah Putih di dasar laut pada peringatan 17 Agustus.

āPara difabel di sini bukan hanya belajar diving, tapi juga seni tari Bali, modern dance, vokal, komputer, sampai bahasa Inggris. Mereka menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti berkarya,ā ujar Herry dalam wawancara dengan wartawan di sela kunjungan.
Kisah Ratni Rose, Inspirasi Dunia
Di antara para difabel yang hadir, nama Ratni Rose mencuri perhatian. Lahir tanpa kaki, Ratni tumbuh menjadi sosok yang menolak menyerah pada keadaan. Selain menguasai diving dan sulap bawah laut, ia juga tampil memukau dalam tarian Bali, modern dance, hingga fire dance.
āAwalnya saya takut mencoba diving. Tapi begitu berada di dalam air, saya merasa justru menemukan kebebasan. Dari situlah saya belajar, keterbatasan itu hanya ada di pikiran,ā kata Ratni sambil tersenyum.
Prestasi Ratni pun diakui dunia. Ia enam kali meraih gelar Most Valuable Player pada ajang Rugby Wheelchair tingkat Asia. āRugby memberi saya ruang untuk berkompetisi secara sehat, membuktikan bahwa difabel juga bisa mendunia,ā tambahnya.
Pelajaran Hidup untuk Agen Asuransi
Kunjungan Herry bersama Andromeda Manulife ini juga menjadi bagian dari pelatihan motivasi agen. Biasanya, pelatihan dilakukan di ruang kelas. Kali ini, mereka diajak melihat langsung bagaimana keteguhan hati bisa melahirkan inspirasi tanpa batas.
āKisah perjuangan mereka adalah refleksi penting. Hidup ini bukan tentang kekurangan, tapi keberanian. Semangat mereka harus menjadi cermin agar kita tidak pernah menyerah,ā tegas Herry.
Salah satu agen, Maria, mengaku tersentuh. āKami datang dengan pikiran hanya sekadar belajar, tapi pulang dengan motivasi yang jauh lebih kuat. Melihat Ratni dan teman-temannya tampil, membuat saya yakin bahwa batasan itu hanya ada jika kita mau menyerah,ā ucapnya.
Mandiri dengan Seni dan Pertanian
Di bawah naungan YCMU, para difabel memilih untuk mandiri. Mereka menolak dikasihani dan lebih suka hidup dari karya sendiri.
Sehari-hari, mereka menari, melukis, hingga membuat gelang yang dipentaskan di hotel-hotel serta dijual sebagai penghasilan tambahan. Selain itu, mereka juga menyewa lahan untuk bercocok tanam. Hasil panen berupa sayur dan buah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, menegaskan bahwa kemandirian adalah gaya hidup, bukan sekadar slogan.
Pesan dari Ubud untuk Indonesia
Pertemuan ini menjadi pengingat bahwa kesempurnaan hidup tidak ditentukan oleh kondisi fisik, melainkan oleh kekuatan tekad dan keberanian untuk terus melangkah.
āKami bukan ingin dikasihani. Kami hanya ingin membuktikan bahwa kami bisa berdiri sejajar dengan siapa pun,ā ujar salah satu difabel peserta YCMU, Made Arya.
Dari Ubud, Bali, lahirlah pesan kuat: keterbatasan hanyalah pintu menuju keajaiban ketika hati tak pernah berhenti berjuang. *Red

